Warisan Leluhur

Jalur Rempah: Kisah Cengkih, Pala, dan Dapur Nusantara

2 menit baca

Jalur Rempah: Kisah Cengkih, Pala, dan Dapur Nusantara
Foto: Inna Safa / Unsplash · foto ilustrasi

Cengkih dan pala dari Maluku pernah membuat dunia datang ke Nusantara. Kisah jalur rempah dan jejaknya di masakan daerah yang kita masak hari ini.

Berabad-abad lalu, cengkih dan pala hanya tumbuh di beberapa pulau kecil di Maluku. Rempah ini begitu dicari sehingga pedagang dari Asia, Timur Tengah, sampai Eropa berlayar jauh untuk mendapatkannya. Jalur pelayaran dan perdagangan inilah yang kita kenal sebagai jalur rempah.

Cengkih dari Maluku Utara, pala dari Banda

Cengkih berasal dari pulau-pulau di Maluku Utara seperti Ternate dan Tidore. Pala dan fuli (selaput merah yang membungkus biji pala) berasal dari Kepulauan Banda. Jauh sebelum orang Eropa datang, rempah ini sudah diperdagangkan oleh pedagang Nusantara, Tiongkok, India, dan Arab.

Pada awal abad ke-16, pelaut Portugis tiba di Maluku, disusul Spanyol, lalu Belanda. Kongsi dagang Belanda, VOC, kemudian berusaha menguasai perdagangan cengkih dan pala dengan kekerasan. Kisah ini menunjukkan betapa berharganya rempah Nusantara pada masa itu, sekaligus mengingatkan kita pada masa yang pahit bagi warga Maluku.

Jejak rempah di dapur kita

Rempah tidak hanya dijual ke luar negeri. Rempah juga membentuk rasa masakan daerah yang kita masak sampai sekarang.

Masakan Maluku hari ini

Di Ternate, sarapan populer adalah nasi kuning dengan cakalang fufu. Ada juga gohu ikan, ikan tuna segar yang dimatangkan dengan air jeruk lalu disiram minyak kelapa panas. Masakan ini menunjukkan bahwa dapur Maluku tidak hanya soal rempah, tetapi juga soal laut dan sagu.

Cara menyimpan rempah kering

Rempah adalah warisan yang menghubungkan dapur kita dengan sejarah dunia. Setiap kali memasak rendang atau semur, kita ikut menjaga warisan itu.

Bagikan ke WhatsApp

Resep yang dibahas

Artikel lainnya

Warisan Leluhur →